a.comment-link:before{content:"1050";}

IT ALL ABOUT ME AND MY LIFE...!

A builder, hard worker, honest, with your feet planted squarely on the ground, you bring structure to the world. Your work requires a tangible finished product at completion. You are excellent at details and routine. Your economical and practical side make...s you a good accountant, efficiency expert, programmer. Analytical and organized, you bring order for others. It is possible that you could work in the field of law and order, as you can assume much responsibility and help to protect others. Your work has an earthly quality to it, and you are here to experience the world as a structured place.

Monday, 9 January 2012

Bangkit Dari Mati



Kesaksian yang luar biasa daripada seorang Rahib Buddha di Myanmar (Burma) yang hidup kembali menjadi seorang yang telah diperbaharui.


Prakata
Kisah berikut adalah terjemahan bebas dari kesaksian yang dirakamkan daripada seorang yang hidupnya diperbaharui. Ini bukan sebuah wawancara atau biografi, tapi kisah yang dituturkan oleh orang tersebut sendiri. Reaksi setiap orang berbeza ketika mendengar kisah ini. Ada yang dapat semangat, ada yang ragu, beberapa bahkan mengejek dan mentertawakan, bahkan ada beberapa dengan penuh ketidakpuasan dan marah kerana mereka yakin bahawa kisah ini adalah suatu penipuan yang cermat. Ada umat Kristian yang menentang kerana kejadian yang radikal dan ajaib ini tidak sesuai untuk mereka.

Pada awalnya kami mengetahui kisah ini dari beberapa pemimpin Gereja yang berkongsi pengalaman dengan kami. Para pemimpin itu sudah meneliti kisah ini dan tidak menemukan kisah ini sebagai suatu pembohongan. Dengan pemikiran ini kami memutuskan untuk berani melangkah mengkhabarkan kisah ini. Kami lakukan ini bukan untuk mencari wang atau untuk mempromosikan diri. Kami hanya ingin kisah ini diketahui dan membuat orang Kristian yang percaya menilainya secara Alkitabiah. Jika Tuhan menginginkan bahagian dari kisah ini untuk KemuliaanNya atau untuk membangun UmatNya, maka kami berdoa agar Roh Kudus bekerja di dalam hati setiap pembaca.

Beberapa orang menceritakan pada kami bahawa mereka berfikir bahawa Rahib itu tidak benar-benar mati tetapi hanya ada dalam ketidaksedaran (koma), dan hal-hal yang dia lihat dan dengar adalah bahagian dari halusinasi/mimpi orang yang kena demam. Apapun yang anda fikirkan, faktanya tetap bahawa kejadian ini secara tiba-tiba telah mengubah hidup orang ini sesudah kejadian di bawah ini. Dia tanpa rasa takut, dengan berani menceritakan pengalamannya, dengan risiko besar, termasuk dipenjarakan. Dia juga dicaci maki oleh saudara-saudaranya, teman-teman, dan diancam untuk dibunuh kerana ketidaksediaannya untuk mengkompromikan kisahnya.

Apa yang memotivasikan orang ini untuk berisiko? Kita mempercayainya atau tidak, kisah ini layak untuk didengarkan dan dipertimbangkan. Dalam masyarakat Barat yang sinis banyak orang mahukan bukti yang kuat untuk hal-hal tersebut. Bukti yang berani dihadapkan di pengadilan. Dapatkah kita yakin tanpa ragu bahawa semua ini betul betul terjadi? Tidak, kita tidak dapat. Tetapi kami tetap merasakan bahawa adalah menjadi kewajipan kami untuk mengkhabarkan kisah orang ini dengan kata-katanya sendiri di mana pembaca dapat menilainya sendiri.

Tahun - Tahun Awalku
Nama saya Athet Pyan Shinthaw Paulu. Saya dari negara Myanmar. Saya ingin berkongsi dengan anda kesaksian saya ini tentang apa yang terjadi pada saya, tetapi sebelumnya saya ingin menceritakan sedikit tentang latar belakang saya sejak saya kecil. Saya dilahirkan tahun 1958 di kota Bogale, di daerah delta Irrawaddy Myanmar selatan (dahulu Burma). Orang tua saya penganut agama Buddha yang beriman (taat) seperti kebanyakan orang di Myanmar, memanggil saya si Thitphin (bererti pohon). Kehidupan di mana saya bertumbuh sangat sederhana. Pada umur 13 tahun saya keluar sekolah dan mulai bekerja di perahu nelayan. Kami menangkap ikan dan udang di beberapa sungai besar dan kecil di daerah Irrawaddy. Pada umur 16 tahun saya menjadi pemimpin perahu. Saat itu saya tinggal di Utara pulau Mainmahlagyon (bererti pulau wanita cantik), di bahagian Utara Bogale dimana saya dilahirkan. Tempat ini kira kira 100 batu Barat Daya Yangoon (Rangoon) ibu kota negara kami.

Suatu hari waktu saya berumur 17 tahun, kami menangkap banyak sekali ikan dalam jala kami. Setelah terlalu banyak ikan yang kami tangkap, seekor buaya besar tertarik perhatiannya. Buaya itu mengikuti perahu kami dan cuba menyerang kami. Kami jadi ketakutan sehingga dengan panik kami mendayung perahu kami menuju tepian sungai secepatnya. Buaya itu mengikuti kami dan menyerang perahu kami dengan ekornya.Walaupun tidak ada yang mati dalam kejadian ini, serangan itu mempengaruhi kehidupan saya. Saya tidak mau lagi menangkap ikan. Perahu kecil kami tenggelam kena serangan buaya itu. Malam itu kami pulang ke kampung naik perahu tumpangan. Tidak lama sesudah itu, bos ayah saya memindahkan ayah saya ke kota Yangoon (sebelum disebut Rangoon). Pada umur 18 tahun, saya dikirim ke sebuah biara menjadi Rahib muda. Kebanyakkan orang tua di Myanmar berusaha mengirimkan anak laki-laki mereka ke biara Buddha, setidak-tidaknya satu kali, kerana ini merupakan satu kehormatan mempunyai anak laki-laki yang melayani dengan cara ini. Kami telah mengikuti adat resam ini selama ratusan tahun.

Seorang murid yang bersemangat
Pada saat saya mencapai umur 19 tahun 3 bulan (thn 1977) saya jadi Rahib. Rahib atasan saya di biara itu memberi saya sebuah nama Buddha baru yang sudah menjadi adat/kebiasaan di negara saya. Saya dipanggil U Nata Pannita Ashinthuriya. Pada waktu kami menjadi Rahib kami tidak lagi menggunakan nama yang diberikan orang tua pada waktu lahir. Biara tempat saya tinggal disebut Mandlay Kyaikasan Kyaing. Nama ketua Rahib ialah U Zadila Kyar Ni Kan Sayadaw (U Zadila adalah gelar). Dia Rahib yang sangat terkenal di seluruh Myanmar pada waktu itu. Setiap orang tahu siapa dia. Dia sangat dihargai oleh orang-orang dan disegani sebagai guru besar. Saya katakan dulu kerana pada tahun 1983 dia tiba-tiba mati dalam kemalangan kereta yang dasyat. Kematiannya mengejutkan semua orang. Saat itu saya sudah 6 tahun jadi Rahib. Saya berusaha menjadi Rahib terbaik dan mengikuti semua ajaran Buddha. Pada suatu tingkat tertentu saya pindah ke sebuah kuburan yang kemudian saya menetap dan bermeditasi secara berterusan di situ. Beberapa Rahib yang sungguh-sungguh mengikuti kebenaran Buddha melakukan hal yang saya lakukan ini. Beberapa bahkan pindah ke hutan dimana mereka hidup menyangkal diri dan miskin. Saya cari penyangkalan diri, fikiran dan keinginan, untuk menghindari penyakit dan penderitaan dan membebaskan diri dari kehidupan duniawi.

Di kuburan saya tidak takut akan syaitan, saya berusaha untuk mencapai kadamaian batin dan sedardiri walaupun bila ada nyamuk yang hinggap di tangan, saya membiarkannya menggigit tangan saya dari pada mengusirnya.

Bertahun-tahun saya berusaha untuk menjadi Rahib terbaik dan tidak menyakiti mahluk hidup. Saya belajar pelajaran Buddha suci ini seperti semua nenek moyang kami lakukan sebelum saya. Kehidupan saya sebagai Rahib berjalan terus sampai suatu waktu saya menderita sakit teruk. Saya ada di Mandalay waktu itu dan harus dibawa ke rumah sakit untuk perawatan. Doktor melakukan beberapa pemeriksaan pada saya dan memberitahu saya bahawa saya mengidap penyakit kuning dan malaria. Sesudah sebulan di hospital, keadaan saya semakin tenat. Doktor memberi tahu saya bahawa tidak ada harapan untuk saya sembuh dan mengeluarkan saya dari hospital untuk mempersiapkan kematian.

Inilah penjelasan singkat masa lalu saya. Sekarang saya ingin menceritakan beberapa hal luar biasa yang terjadi pada diri saya sesudahnya.

Penglihatan Yang Mengubah Hidup Saya Selamanya
Sesudah saya dikeluarkan dari hospital saya kembali ke tempat di mana para Rahib yang lain mengurus saya. Saya makin hari makin lemah dan makin susut kerana badan busuk dan bau kematian, dan akhirnya jantung saya berhenti berdenyut. Tubuh saya dipersiapkan untuk pembakaran mayat mengikut tatacara pemurnian agama Buddha.

Walaupun tubuh saya mati tapi saya ingat dan sedar dalam fikiran dan roh saya. Saya ada dalam badai besar. Angin kencang meniup seluruh daratan sampai tidak ada pohon atau apapun yang berdiri, semua rata, saya berjalan sangat cepat di jalan rata itu untuk beberapa lama. Tak ada orang lain, hanya saya sendiri, kemudian saya menyeberang sebuah sungai. Di seberang sungai itu saya melihat danau api yang teramatlah besar. Dalam agama Buddha kami tidak ada gambaran tempat seperti ini. Pada mulanya saya bingung dan tidak tahu bahawa itu adalah neraka sampai saya lihat Yama, raja neraka (Yama adalah nama untuk raja neraka dalam kebudayaan Asia) mukanya seperti singa, badannya seperti singa , tetapi kakinya seperti seekor naga (roh naga). Dia mempunyai beberapa tanduk di kepalanya. Wajahnya sangat mengerikan dan saya sangat ketakutan. Dengan gementar, saya tanya namanya. Dia jawab "Saya adalah raja neraka, si Perosak!".

Danau Api Yang Sangat Mengerikan
Raja neraka memberitahu saya untuk melihat ke danau api itu. Saya memandang dan melihat jubah warna kunyit yang biasa dipakai rahib Buddha di Myanmar. Saya memandang dan melihat kepala yang botak milik seorang laki-laki. Waktu saya lihat wajah orang itu saya mengenalinya sebagai U Zadila Kyar Ni Kan Sayadaw (rahib terkenal yang mati kemalangan kereta tahun 1983). Saya tanya raja neraka mengapa pemimpin saya, diikat dalam danau penyeksaan ini. Saya tanya "Mengapa dia ada dalam danau api ini? Dia seorang guru yang baik." Dia bahkan mempunyai kaset pengajaran yang bertajuk 'Apakah anda manusia atau anjing?' Yang sudah membantu ribuan orang mengerti bahawa sebagai manusia sangat berharga jauh dibandingkan binatang". Raja neraka itu menjawab, "Betul, dia seorang guru yang baik, tetapi dia tidak percaya pada Yesus Kristus. Itulah sebabnya dia ada di neraka." Saya diberitahu untuk melihat orang lain yang ada di dalam api itu. Saya lihat seorang laki-laki dengan rambut panjang dililitkan pada bahagian kiri kepalanya. Dia juga mengenakan jubah. Saya tanya raja neraka "Siapa orang itu?" Dia menjawab, "Inilah yang kau sembah, Gautama (Buddha)".

Saya sangat terganggu melihat Gautama di neraka. Saya protes, "Gautama orang baik, mempunyai watak moral yang baik, mengapa dia menderita di dalam danau api ini?" Raja neraka menjawab saya "Tak peduli bagaimana baiknya dia. Ia ada di tempat ini kerana dia tidak percaya pada Allah yang kekal".

Saya kemudian melihat seorang yang lain yang tampaknya memakai seragam tentara. Dia terluka di dadanya. Saya tanya "Siapa dia?" Raja neraka berkata "Ini Aung San, pemimpin revolusi Myanmar". Saya kemudian diberitahu, "Aung San di sini kerana dia menyeksa dan membunuh orang-orang Kristian, tapi terutama kerana dia tidak percaya Yesus Kristus." Di Myanmar ada pepatah, "Tentera tidak pernah mati, hidup terus." Saya diberitahu bahawa tentera neraka mempunyai pepatah "Tentera tidak pernah mati, tapi ke neraka selamanya".

Saya amati dan melihat orang lain di danau api itu. Dia orang yang sangat tinggi dan memakai baju askar. Dia juga menyandang pedang dan perisai. Orang ini terluka di dahinya. Orang ini lebih tinggi dari siapapun yang pernah saya lihat. Dia enam kali panjang jarak siku sampai hujung jarinya waktu dia luruskan kedua lengannya, ditambah satu jengkal waktu dia rentangkan tangannya. Raja neraka itu berkata orang ini namanya Goliath. Dia di neraka kerana dia menghina Allah yang kekal dan hambanya Daud. Saya bingung kerana saya tidak tahu siapa itu Goliath dan Daud. Raja neraka berkata, "Goliath tercatat di Alkitab orang Kristian. Kamu tidak tahu dia sekarang, tapi kalau kamu jadi Kristian, kamu akan tahu siapa dia. Saya dibawa ke sebuah tempat di mana saya lihat orang kaya dan miskin menyiapkan makan malam mereka. Saya tanya, "Siapa yang memasak makanan untuk orang-orang itu?" Raja itu menjawab "Yang miskin harus menyiapkan makanan mereka, tapi yang kaya menyuruh yang lain untuk memasak untuk mereka." Ketika makanan sudah tersedia untuk yang kaya, mereka duduk untuk makan. Segera setelah mereka mulai makan asap tebal keluar. Yang kaya makan secepat yang mungkin agar mereka tidak pengsan. Mereka berusaha keras untuk dapat bernafas kerana asap itu. Mereka harus makan cepat-cepat kerana mereka takut kehilangan wang mereka. Wang mereka adalah tuhan mereka.

Seorang raja yang lain kemudian datang pada saya. Saya juga melihat satu makhluk yang kerjanya menjaga api di bawah danau api agar tetap panas. Makhluk ini bertanya pada saya "Apa kamu juga akan masuk ke danau api ini?" Saya jawab, "Tidak! saya di sini untuk hanya mengamati!" Bentuk makhluk yang menjaga api itu sangat menakutkan. Dia punya 10 tanduk di kepalanya dan sebatang tombak di tangannya yang pada hujungnya ada 7 pisau tajam. Makhluk ini berkata "Kamu betul, kamu datang ke sini hanya untuk mengamati. Saya tidak temukan namamu disini". Katanya "Kamu harus kembali dari mana kamu datang tadi" Dia menunjukan arah pada saya tempat terpencil rata yang saya lewati sebelumnya waktu datang ke danau api ini.

Keputusan Untuk Memilih Jalan
Saya berjalan cukup lama, sampai kaki saya berdarah. Saya sangat kepanasan dan kesakitan. Akhirnya setelah berjalan sekitar 3 jam saya sampai di sebuah jalan yang lebar. Saya berjalan sepanjang jalan ini beberapa lama sampai menemukan persimpangan. Satu jalan arah kiri, lebar. Jalan yang lebih kecil menuju ke sebelah kanan. Ada tanda disimpang itu yang berbunyi jalan kiri untuk mereka yang tidak percaya pada Tuhan Yesus Kristus, jalan yang lebih kecil menuju ke kanan untuk yang percaya Yesus. Saya tertarik melihat ke mana tujuan jalan yang lebih besar itu, jadi saya mulai melaluinya.

Ada 2 orang berjalan kira-kira 300 ela di depan saya. Saya cuba mengejar mereka agar dapat berjalan bersama, tetapi tidak dapat mengejar mereka, jadi saya putar balik dan kembali ke simpang jalan tadi. Saya terus perhatikan kedua orang yang berjalan tadi. Waktu mereka mencapai hujung jalan tiba-tiba mereka ditikam. Kedua orang itu berteriak sangat kesakitan. Saya juga menjerit keras waktu melihat apa yang terjadi pada mereka. Saya sedar akhir dari jalan yang lebih lebar sangat berbahaya untuk mereka yang menjalaninya.

Melihat Surga
Saya mulai melangkah ke jalan Orang Percaya. Sesudah berjalan sekitar 1 jam, permukaan jalan berubah menjadi emas murni. Sungguh murni sampai-sampai waktu saya lihat kebawah saya dapat melihat bayangan saya dengan sempurna. Kemudian saya lihat seseorang berdiri di depan saya. Dia memakai jubah putih. Saya juga mendengar nyanyian merdu. Oh, alangkah indah dan murninya! Sangat jauh lebih baik dan bererti dibandingkan penyembahan yang kita dengar di gereja manapun di dunia. Orang berjubah tersebut meminta saya berjalan bersamanya. Saya bertanya padanya, "Siapakah namamu?" tetapi dia tidak menjawabnya. Baru sesudah saya tanya dia 6 kali orang itu menjawab, "Saya yang memegang kunci ke syurga. Syurga tempat yang sangat sangat indah. Kamu tidak dapat pergi ke sana sekarang tetapi kalau kamu mengikuti Yesus Kristus kamu dapat pergi ke sana sesudah hidupmu selesai di bumi". Orang itu bernama Petrus. Petrus kemudian meminta saya untuk duduk dan menunjukkan pada saya sebuah tempat di sebelah utara. Petrus berkata, "Lihat ke Utara dan lihatlah Allah menciptakan manusia".

Saya melihat Allah kekal dari jarak yang jauh. Allah berkata pada seorang malaikat, "Mari kita ciptakan manusia." Malaikat itu memohon pada Allah dan berkata, "Jangan menciptakan manusia. Dia akan berbuat dosa dan mendukakan Engkau." (dalam bahasa asli Burma berarti: "Dia akan mempermalukan Engkau") Tetapi Allah tetap menciptakan manusia. Allah meniupkan nafasNya dan manusia itu hidup. Dia memberi nama orang itu "Adam". (catatan: agama Buddha tidak percaya penciptaan dunia atau manusia sehingga pengalaman ini sangat besar pengaruhnya pada rahib itu).

Dikembalikan Dengan Nama Baru
Kemudian Petrus berkata, "Sekarang bangunlah dan kembalilah melalui jalan dari mana engkau datang. Katakan pada orang-orang yang menyembah Buddha dan menyembah berhala. Beritahu mereka bahawa mereka akan pergi ke neraka bila mereka tidak berubah. Mereka yang membangunkan kuil dan berhala juga akan ke neraka. Mereka yang yang memberikan persembahan pada para rahib untuk mendapatkan jasa untuk mereka sendiri juga akan ke neraka. Mereka yang menyembah rahib dan memanggil mereka "Pra" (gelar kehormatan bagi rahib) akan ke neraka. Mereka yang menyanyi dan memberikan hidupnya untuk berhala akan ke neraka. Mereka yang tidak percaya Yesus Kristus akan ke neraka.

Petrus memberitahu saya untuk kembali ke bumi dan bersaksi tentang semua apa yang telah saya lihat. Dia juga berkata, 'Kamu harus bersaksi dengan nama yang baru. Sejak saat ini kamu harus dipanggil Athet Pyan Shinthaw Paulu (Paulus yang kembali hidup). Saya tidak mau kembali. Saya ingin tinggal di syurga. Seorang kemudian malaikat membuka sebuah buku. Pertama-tama mereka mencari nama masa kecilku (Thitpin) dalam buku, tapi mereka tidak menemukannya. Kemudian mereka mencari nama yang diberikan pada saya waktu masuk agama Budha (U Nata Pannita Ashinthuriya), tapi juga tidak tertulis disitu. Kemudian Petrus berkata, "Namamu tidak tertulis di sini, kamu harus kembali dan bersaksi tentang Yesus pada orang-orang yang beragama Budha".

Saya berjalan kembali melalui jalan emas. Saya dengar lagi nyanyian yang merdu, yang tidak pernah saya dengar sebelum ini. Petrus berjalan dengan saya sampai saatnya saya kembali ke bumi. Dia menunjukkan pada saya tangga untuk kembali ke bumi antara syurga dan langit. Tangga itu tidak sampai ke bumi, tetapi berhenti di udara. Pada saat di tangga saya lihat banyak sekali malaikat, ada yang naik ke surga dan ada yang turun ke tangga. Mereka sangat sibuk. Saya tanya Petrus, "Siapakah mereka?". Petrus menjawab, "Mereka pesuruh Tuhan. Mereka melaporkan ke syurga nama-nama mereka yang percaya Yesus Kristus dan nama-nama mereka yang tidak percaya." Petrus kemudian memberitahu saya, sudah waktunya untuk kembali.

Hantu!
Tiba-tiba saya mendengar sebuah tangisan. Saya dengar ibu saya sedang menangis, "Anakku, mengapa engkau meninggalkan kami sekarang?" Saya juga mendengar orang-orang lain menangis. Saya kemudian sedar saya sedang terbujur dalam sebuah peti. Saya mulai bergerak. Ibu dan ayahku berteriak, "Dia hidup, dia hidup!" Orang lain yang agak jauh tidak percaya. Kemudian saya letakkan tangan saya di kedua sisi peti itu dan duduk tegak. Banyak orang ketakutan. Mereka menjerit, "Hantu!" dan berlari secepat kaki mereka membawanya. Mereka yang tertinggal, diam dan bergementaran.

Saya merasakan saya sedang duduk dalam cecair yang tidak sedap baunya, cecair tubuh, cukup banyak untuk dapat mengisi 3,5 gelas. Itu adalah cecair yang keluar dari perut dan bahagian dalam tubuhku ketika tubuhku terbujur di dalam peti mati. Inilah sebabnya orang tahu bahawa saya sudah betul-betul mati. Di dalam peti mati ini ada semacam lembaran plastik yang ditampalkan pada kayu peti. Lembaran plastik ini untuk menampung cecair yang keluar dari mayat, kerana tubuh orang meninggal banyak mengeluarkan cecair seperti yang saya alami.

Saya diberitahu kemudian bahawa hanya beberapa saat lagi saya akan dibakar dalam api. Di Myanmar orang mati dimasukan ke dalam peti mati, ditutup kemudian dipaku, dan kemudian dibakar. Ketika saya kembali hidup, ibu dan ayahku sedang melihat tubuhku untuk terakhir kalinya. Sesaat lagi tutup peti akan segera dipaku dan saya akan dibakar. Saya segera mulai menjelaskan hal-hal yang saya lihat dan dengar. Orang-orang merasa hairan. Saya ceritakan orang-orang yang saya lihat di dalam danau api itu, dan memberitahu hanya orang Kristian yang tahu kebenaran, bahawa nenek moyang kita dan kita sudah tertipu ribuan tahun! Saya beritahu mereka segala sesuatu yang kita percayai adalah kebohongan. Orang-orang merasa hairan sebab mereka tahu rahib macam apa saya dan bagaimana bersemangatnya saya dalam pengajaran Buddha. Di Myanmar ketika seseorang meninggal, namanya dan umurnya ditulis disamping peti mati. Ketika seorang rahib meninggal, namanya, umurnya dan masa pelayanannya sebagai rahib dituliskan di samping peti mati. Saya sudah ditulis mati tetapi seperti yang anda lihat, sekarang saya hidup!

Penutup
Sejak "Paul yang kembali hidup" mengalami kisah di atas dia tetap menjadi saksi yang setia kepada Yesus Kristus. Para Gembala di Burma mengkhabarkan bahawa dia sudah membawa ratusan rahib lain untuk beriman kepada Yesus. Kesaksiannya jelas sekali tidak berkompromi. Oleh sebab itu, pesan dia telah menyakitkan banyak orang yang tidak dapat menerima hanya ada satu jalan ke surga, Yesus Kristus.

Walaupun menghadapi penolakan yang sangat besar, pengalamannya sungguh nyata sehingga ia pernah ragu maupun bimbang. Setelah sekian tahun dalam lingkungan biara Buddha, sebagai pengikut ajaran Buddha yang setia, beralih menyatakan Injil Kristus sesudah kebangkitannya dari mati dan mendesak rahib yang lain untuk meninggalkan semua dewa-dewa palsu dan menjadi pengikut Yesus dengan sepenuh hati. Sebelum sakit dan matinya dia tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang ke-Kristianan. Semua yang dia dapatkan selama 3 hari dalam kematian adalah baru dalam fikirannya. Dalam mengkhabarkan pesannya sebanyak mungkin pada orang-orang.

Lazarus moden ini mulai membahagikan audio dan video kaset mengenai kisahnya. Polis serta pihak berkuasa di Myanmar sudah berusaha sekuatnya untuk mengumpulkan kaset-kaset ini dan memusnahkannya. Kesaksian yang baru saja anda baca adalah salah satu terjemahan dari kaset itu. Kami diberitahu bahawa sekarang sangat berbahaya bagi warga Myanmar untuk memiliki kaset ini. Kesaksiannya yang tidak kenal takut telah membuatnya dipenjarakan, di mana yang berkuasa telah gagal menawarkan dia untuk mengaku bersalah. Sesudah dilepaskan dia terus bersaksi tentang apa yang dia lihat dan dengar.

Tentang di mana dia berada sekarang tidak jelas. Seorang sumber di Burma mengatakan bahawa dia dipenjara dan bahkan mungkin sudah dibunuh, sumber lain mengkhabarkan bahawa dia sudah dilepaskan dari penjara dan sedang meneruskan pelayanannya.

No comments: